
Menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, kita kembali diingatkan tentang pentingnya menjaga kebersihan diri. Dalam ajaran Islam, kebersihan merupakan bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, termasuk menjaga kebersihan dan kesehatan mulut.
Namun, tanpa disadari, plak dan sisa makanan dapat menumpuk di sela-sela gigi. Jika tidak dibersihkan dengan baik, plak dapat mengalami mineralisasi dan mengeras menjadi karang gigi.
Karang gigi sering kali tidak menimbulkan keluhan pada tahap awal. Padahal, jika dibiarkan, penumpukannya dapat meningkatkan risiko peradangan gusi dan penyakit jaringan penyangga gigi.
Lalu, apa penyebab karang gigi? Apa perbedaan plak gigi vs karang gigi? Apakah karang gigi bisa dibersihkan sendiri? Yuk, cari tahu selengkapnya bersama tim dokter gigi ConfiDental.
Apa Itu Karang Gigi dan Bagaimana Proses Terbentuknya?
Karang gigi atau dental calculus adalah plak gigi yang mengalami mineralisasi akibat kandungan mineral, seperti kalsium dan fosfat, dalam air liur.
Prosesnya bermula dari plak, yaitu lapisan biofilm yang terbentuk ketika bakteri dan sisa makanan menempel pada permukaan gigi. Jika plak tidak dibersihkan secara optimal, mineral dalam air liur dapat membuatnya mengeras dan membentuk karang gigi.
Berbeda dengan plak yang masih lunak, karang gigi menempel kuat pada permukaan gigi, termasuk di sekitar atau di bawah garis gusi. Karena sudah mengeras, karang gigi tidak dapat dibersihkan secara efektif hanya dengan menyikat gigi.
Plak Gigi vs Karang Gigi, Apa Bedanya?
Plak dan karang gigi sering dianggap sama, padahal keduanya berbeda.
1. Plak Gigi
Plak gigi merupakan lapisan biofilm tipis yang terbentuk di permukaan gigi. Plak umumnya terasa licin atau lengket dan dapat dibersihkan dengan menyikat gigi serta membersihkan sela-sela gigi secara rutin.
Jika tidak dibersihkan, plak dapat mengalami mineralisasi dan berubah menjadi karang gigi.
2. Karang Gigi
Karang gigi adalah plak yang telah mengeras akibat proses mineralisasi. Teksturnya keras dan dapat berwarna putih kekuningan, cokelat, hingga lebih gelap akibat noda dari makanan, minuman, atau kebiasaan tertentu.
Karang gigi dapat terbentuk di atas maupun di bawah garis gusi dan melekat kuat pada permukaan gigi.
Jadi, perbedaan utama plak gigi vs karang gigi terletak pada tekstur dan cara membersihkannya. Plak dapat dikendalikan dengan kebersihan mulut yang baik, sedangkan karang gigi yang sudah mengeras membutuhkan pembersihan profesional.
Mengapa Karang Gigi Tidak Bisa Dibersihkan dengan Sikat Gigi?
Setelah plak mengalami mineralisasi, teksturnya menjadi keras dan melekat kuat pada permukaan gigi. Karena itu, menyikat gigi lebih keras tidak akan membuat karang gigi hilang.
Bahkan, menyikat gigi dengan tekanan berlebihan dapat menyebabkan iritasi atau luka pada gusi.
Penggunaan bahan rumahan seperti garam atau baking soda juga bukan cara yang direkomendasikan untuk mengikis karang gigi.
Lalu, bagaimana cara membersihkan karang gigi?
Karang gigi dapat dibersihkan melalui prosedur scaling gigi yang dilakukan oleh dokter gigi menggunakan instrumen khusus.
Bahaya Karang Gigi yang Sering Diremehkan
Karang gigi bukan hanya mengganggu penampilan gigi. Permukaannya yang kasar juga dapat memudahkan plak kembali menumpuk di sekitar gigi dan gusi.
Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan gigi dan gusi.
1. Gingivitis atau Radang Gusi
Salah satu masalah yang dapat muncul akibat penumpukan plak dan karang gigi adalah gingivitis.
Gingivitis merupakan peradangan pada gusi yang dapat ditandai dengan:
- Gusi kemerahan;
- Gusi membengkak;
- Gusi mudah berdarah saat menyikat gigi;
- Gusi terasa lebih sensitif.
Pada tahap ini, peradangan umumnya masih dapat dikendalikan dengan memperbaiki kebersihan mulut dan mendapatkan perawatan yang sesuai.
2. Periodontitis
Jika peradangan gusi tidak ditangani, penyakit dapat berkembang dan memengaruhi jaringan penyangga gigi. Kondisi ini disebut periodontitis.
Periodontitis dapat menyebabkan terbentuknya kantong periodontal, resesi gusi, serta kehilangan tulang penyangga gigi. Pada kondisi yang lebih lanjut, gigi dapat menjadi goyang.
Karena itu, bahaya karang gigi tidak hanya berkaitan dengan penampilan, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan jaringan penyangga gigi.
3. Bau Mulut
Penumpukan plak dan karang gigi dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap bau mulut atau halitosis.
Bakteri di dalam plak dan area sekitar gusi dapat menghasilkan senyawa berbau tidak sedap. Jika bau mulut terus berlanjut meskipun kebersihan mulut sudah dijaga, sebaiknya lakukan pemeriksaan ke dokter gigi untuk mengetahui penyebabnya.
Cara Membersihkan Karang Gigi dengan Scaling Gigi
Jika karang gigi sudah terbentuk, cara membersihkan karang gigi yang tepat adalah melalui pembersihan profesional oleh dokter gigi.
Salah satu prosedur yang umum dilakukan adalah scaling gigi.
Scaling bertujuan menghilangkan plak dan karang gigi yang menempel pada permukaan gigi menggunakan instrumen khusus, termasuk ultrasonic scaler.
Setelah karang gigi dibersihkan, dokter gigi juga dapat mengevaluasi kondisi gusi dan menentukan apakah pasien membutuhkan perawatan lanjutan.
Apakah Scaling Gigi Sakit?
Pertanyaan ini cukup sering muncul, terutama bagi pasien yang baru pertama kali melakukan scaling.
Pada umumnya, scaling gigi tidak menimbulkan rasa sakit yang berat. Namun, pasien dapat merasakan getaran dari alat, tekanan ringan, atau sensasi ngilu, terutama jika gusi sedang mengalami peradangan atau terdapat penumpukan karang gigi yang cukup banyak.
Tingkat kenyamanan setiap pasien juga dapat berbeda. Dokter gigi dapat menyesuaikan tindakan berdasarkan kondisi gigi dan gusi masing-masing pasien.
Seberapa Sering Harus Melakukan Scaling Gigi?
Tidak semua orang membutuhkan scaling dengan frekuensi yang sama.
Jadwal pembersihan karang gigi dapat disesuaikan dengan kondisi kebersihan mulut dan faktor risiko masing-masing pasien. Bagi sebagian orang, pemeriksaan dan pembersihan profesional secara berkala dapat dilakukan sekitar setiap enam bulan.
Namun, pasien dengan risiko penyakit gusi atau penumpukan karang gigi yang lebih tinggi mungkin membutuhkan jadwal perawatan yang lebih sering sesuai rekomendasi dokter gigi.
Jadi, tidak perlu menunggu sampai karang gigi terlihat banyak atau gusi mulai berdarah untuk melakukan pemeriksaan.
Untuk mengetahui estimasi biaya, Confi People dapat membaca informasi lengkap mengenai harga scaling gigi di klinik 2026.
Cara Mencegah Karang Gigi Kembali
Setelah melakukan scaling, menjaga kebersihan gigi dan gusi tetap penting agar plak tidak kembali menumpuk dan mengalami mineralisasi.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
1. Sikat Gigi Dua Kali Sehari
Sikat gigi minimal dua kali sehari, terutama setelah sarapan dan sebelum tidur.
Gunakan sikat gigi berbulu lembut serta pasta gigi berfluoride. Bersihkan seluruh permukaan gigi dengan gerakan lembut dan jangan memberikan tekanan berlebihan.
2. Bersihkan Sela-Sela Gigi
Bulu sikat gigi tidak selalu dapat menjangkau area di antara gigi. Karena itu, gunakan dental floss atau alat pembersih interdental sesuai kebutuhan.
Membersihkan sela-sela gigi membantu mengurangi penumpukan plak di area yang sulit dijangkau.
3. Perhatikan Pola Konsumsi
Batasi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula serta kebiasaan yang dapat meningkatkan penumpukan noda pada gigi.
Minum air putih yang cukup juga membantu menjaga kebersihan rongga mulut.
4. Lakukan Pemeriksaan Gigi Secara Berkala
Pemeriksaan rutin membantu dokter gigi mendeteksi penumpukan plak, karang gigi, serta masalah gusi sejak dini.
Dokter juga dapat menentukan apakah kamu membutuhkan scaling atau perawatan lainnya berdasarkan kondisi rongga mulut.
Faktor Risiko Karang Gigi
Beberapa kebiasaan dan kondisi dapat membuat plak lebih mudah menumpuk atau menyebabkan karang gigi terbentuk lebih cepat.
Faktor tersebut antara lain:
- Kebersihan gigi dan mulut yang kurang baik;
- Tidak membersihkan sela-sela gigi;
- Kebiasaan merokok;
- Konsumsi kopi atau teh yang dapat menyebabkan noda pada permukaan gigi;
- Kondisi dan komposisi air liur;
- Susunan gigi yang membuat beberapa area sulit dibersihkan.
Karena faktor pembentukan karang gigi dapat berbeda pada setiap orang, kebutuhan scaling juga tidak selalu sama.
Menyambut Maulid Nabi, Waktunya Menjaga Kebersihan Gigi dan Mulut
Momen Maulid Nabi dapat menjadi pengingat untuk kembali memperhatikan kebersihan diri, termasuk kesehatan gigi dan mulut.
Jangan menunggu sampai gusi berdarah, bau mulut mengganggu, atau gigi terasa goyang untuk mulai memeriksakan kondisi gigi.
Jika Confi People sudah melihat adanya karang gigi atau ingin memastikan kondisi gigi dan gusi, kamu dapat melakukan pemeriksaan dan scaling gigi di ConfiDental.
Reservasi jadwal pemeriksaan atau scaling melalui WhatsApp ConfiDental.
Kesimpulan
Karang gigi terbentuk ketika plak mengalami mineralisasi dan mengeras pada permukaan gigi. Berbeda dengan plak yang masih dapat dibersihkan secara mandiri, karang gigi membutuhkan pembersihan profesional melalui scaling gigi.
Jika dibiarkan, penumpukan plak dan karang gigi dapat meningkatkan risiko gingivitis, periodontitis, bau mulut, hingga gigi goyang pada kondisi yang lebih lanjut.
Karena itu, menjaga kebersihan gigi setiap hari, membersihkan sela-sela gigi, serta melakukan pemeriksaan dan scaling sesuai kebutuhan merupakan bagian penting dari cara membersihkan karang gigi sekaligus mencegahnya kembali.
Jadi, jangan tunggu sampai karang gigi menimbulkan masalah. Mulai jaga kesehatan gigi dan gusi dari sekarang bersama ConfiDental.
Baca Juga:
Referensi:
- Elsevier. (n.d.). Dental scaling. ScienceDirect Topics. Retrieved August 15, 2026, from https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/dental-scaling
- Lee, G.-Y., Koh, S.-B., & Kim, N.-H. (2019). Regular dental scaling associated with decreased tooth loss in the middle-aged and elderly in Korea: A 3-year prospective longitudinal study. Indian Journal of Dental Research, 30(2), 231–237. https://doi.org/10.4103/ijdr.IJDR_566_17
- Matthews, D. C., & Al-Waeli, H. (2025). Benefits of Dental Scaling and Polishing in Adults: A Rapid Review and Evidence Synthesis. JDR clinical and translational research, 10(3), 269–281. https://doi.org/10.1177/23800844241271684