WE ARE OPEN EVERY DAY  09:00 – 21:00

Gigi berlubang parah atau dalam bisa menyebabkan infeksi hingga abses. Ketahui penanganan gigi berlubang parah dan kapan gigi masih bisa dipertahankan
Gigi berlubang parah

 

Gigi Berlubang Parah Seberapa Gawat?

Gigi berlubang parah atau dalam biasanya akan menimbulkan ngilu dan mengganggu aktivitas. Ketika infeksinya sudah mencapai lapisan dalam gigi, bakteri dapat menginfeksi saraf dan jaringan sekitar akar gigi. Kondisi inilah yang menyebabkan nyeri hebat, pembengkakan, hingga kesulitan makan dan tidur.

 

Banyak pasien datang ke klinik gigi saat kondisi sudah terlambat karena menganggap lubang kecil akan sembuh sendiri. Padahal secara medis, gigi berlubang tidak dapat sembuh dan menutup kembali tanpa perawatan ke dokter gigi.

 

Di Jawa Timur, kebiasaan konsumsi makanan manis, kopi dengan gula, teh manis, hingga minuman bersoda cukup tinggi, sehingga dapat meningkatkan risiko karies gigi jika kebersihan mulut tidak dijaga dengan baik.

 

Memahami Tahapan Gigi Berlubang

Tahap 1 : Proses Demineralisasi Email

Tahap awal ditandai munculnya bercak putih kapur atau kecokelatan pada lapisan terluar gigi (enamel/email gigi). Kondisi ini terjadi akibat hilangnya mineral dari permukaan gigi karena paparan asam dari bakteri plak. Pada tahap ini biasanya belum muncul rasa sakit atau lubang yang jelas terlihat.

 

Jika segera ditangani dengan:

maka proses demineralisasi masih dapat dihentikan bahkan sebagian dapat di-remineralisasi.

Tahap 2 : Karies Enamel

Jika proses demineralisasi terus berlangsung, struktur enamel mulai mengalami kehilangan mineral yang lebih dalam sehingga terbentuk lesi karies awal. Pada tahap ini dapat muncul kavitas kecil (lubang awal) pada permukaan gigi. Karena enamel tidak memiliki saraf, keluhan nyeri biasanya masih minimal atau bahkan belum terasa.

 

Pada tahap ini, dokter gigi dapat melakukan:

 

Semakin dini karies enamel ditangani, semakin besar kemungkinan struktur gigi asli dapat dipertahankan tanpa perawatan yang lebih kompleks.

Tahap 3 : Karies Dentin

Infeksi bakteri telah mencapai dentin, yaitu lapisan di bawah enamel yang lebih lunak dan memiliki tubulus yang terhubung ke saraf gigi.

 

Gejala mulai muncul seperti:

 

Pada tahap ini, penambalan gigi biasanya masih dapat dilakukan apabila pulpa atau saraf gigi belum terinfeksi.

Tahap 4 : Infeksi Pulpa dan Akar Gigi

Bakteri telah mencapai pulpa atau saraf gigi, sehingga terjadi peradangan atau infeksi.

 

Keluhan yang sering muncul:

 

Penanganan dapat berupa:

 

Apa yang Terjadi Jika Gigi Berlubang Dibiarkan Parah?

Infeksi bakteri dapat membentuk kantung nanah (abses) di sekitar akar gigi. Abses gigi dapat menyebabkan pembengkakan dan nyeri hebat.

Pada kasus tertentu, infeksi bahkan dapat menyebar ke jaringan wajah dan leher.

Sisa makanan dan bakteri dari gigi berlubang besar dapat meningkatkan risiko karies gigi pada gigi di sekitarnya.

Infeksi kronis di rongga mulut dapat memengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan, terutama pada penderita diabetes, penyakit jantung, atau gangguan imun.

 

Pilihan Perawatan Gigi Berlubang Parah

Penanganan gigi berlubang parah tergantung tingkat keparahan infeksinya dan kondisi jaringan penyangga gigi.

Penambalan Gigi

Jika kondisi infeksi bakteri dan kedalaman lubang belum mencapai saraf gigi secara luas, serta struktur gigi masih cukup kuat, dokter gigi dapat melakukan penambalan gigi. Tambalan membantu mengembalikan fungsi dan bentuk gigi.

Perawatan Saluran Akar (PSA)

Jika saraf sudah terinfeksi tetapi akar dan tulang penyangga masih baik, dokter gigi akan melakukan perawatan saluran akar atau PSA.

 

Prosedur ini bertujuan untuk membersihkan jaringan saraf yang terinfeksi lalu menutup saluran akar agar bakteri tidak masuk kembali.

 

Prosedur PSA tersedia di cabang ConfiDental untuk membantu Confi People mempertahankan kesehatan gigi selama memungkinkan.

Mahkota Gigi (Dental Crown)

Pada gigi yang sudah rapuh setelah PSA atau hanya tersisa sedikit jaringan sehat, dokter gigi dapat menyarankan pemasangan mahkota gigi (dental crown).

 

Dental crown berfungsi melindungi struktur gigi dan mengembalikan fungsinya agar tidak mudah patah saat digunakan mengunyah.

Pencabutan dan Penggantian Gigi

Jika gigi sudah tidak dapat dipertahankan karena infeksinya yang terlalu luas, adanya keretakan hingga akar, atau infeksi berat, maka pencabutan gigi menjadi pilihan terbaik.

 

Setelah pencabutan, kehilangan gigi dapat diganti menggunakan:

 

Kapan Gigi Berlubang Harus Dicabut?

Dokter gigi biasanya mempertimbangkan pencabutan apabila:

 

Namun secara prinsip, dokter gigi akan berusaha mempertahankan gigi alami selama hasil perawatan atau prognosisnya masih baik.

 

Tanda Gigi Berlubang Parah yang Tidak Boleh Diabaikan

Segera periksa ke dokter gigi jika mengalami:

 

Semakin cepat ditangani, semakin besar kemungkinan gigi masih dapat diselamatkan tanpa pencabutan. Namun, sebelum Confi People mengalami keluhan di atas, sangat disarankan untuk kontrol rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali meskipun tidak ada keluhan sakit gigi.

 

Banyak Pasien Datang Saat Kondisi Sudah Parah

Banyak pasien baru di ConfiDental yang datang ketika gigi berlubang sudah dalam atau mencapai saraf gigi karena mereka takut ke dokter gigi atau berharap nyeri akan hilang sendiri.

 

Padahal, penanganan pada tahap awal biasanya jauh lebih sederhana dibanding ketika infeksi sudah mencapai saraf gigi.

 

Layanan PSA, dental crown, penambalan gigi, hingga rehabilitasi gigi tersedia di berbagai cabang ConfiDental di Malang, Madiun, Pasuruan, Tulungagung, dan kota lainnya di Jawa Timur.

 

Jangan Tunggu Sampai Parah, Segera Periksakan Gigimu

Gigi berlubang sampai saraf gigi bukan kondisi yang boleh dianggap sepele. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu mempertahankan gigi asli dan mencegah komplikasi yang lebih serius.

 

Jika Confi People mengalami sakit gigi berkepanjangan atau memiliki gigi berlubang besar, segera konsultasikan dengan dokter gigi untuk mengetahui pilihan perawatan terbaik.

 

Kesimpulan

Gigi berlubang parah adalah kondisi serius yang dapat berkembang dari demineralisasi enamel ringan hingga ke infeksi saluran akar gigi dan abses. Penanganannya bergantung pada tingkat keparahan, mulai dari tambal gigi, perawatan saluran akar, pemasangan dental crown, hingga pencabutan apabila gigi sudah tidak dapat dipertahankan. Semakin cepat diperiksa, semakin besar peluang mempertahankan gigi alami dan mencegah komplikasi yang lebih berat.

 

Referensi:

  1. Bjørndal, L., Simon, S., Tomson, P. L., & Duncan, H. F. (2019). Management of deep caries and the exposed pulp. International Endodontic Journal, 52(7), 949–973. https://doi.org/10.1111/iej.13128 
  2. Gheorghiu, I. M., Ciobanu, S., Roman, I., Păunică, S., Dumitriu, A. S., & Iliescu, A. A. (2025). Deep Caries Lesions Revisited: A Narrative Review. Journal of Mind and Medical Sciences, 12(1), 37. https://doi.org/10.3390/jmms12010037
  3. Hamilton, A. R., & Ricketts, D. (2026). Management of deep caries. British dental journal, 240(5), 357–364. https://doi.org/10.1038/s41415-025-9350-7

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *