WE ARE OPEN EVERY DAY  09:00 – 21:00

Crown gigi atau mahkota gigi adalah selubung buatan yang dipasang untuk menutupi seluruh permukaan gigi yang rusak
Crown gigi atau mahkota gigi

 

Gigi yang retak, patah, berlubang besar, atau telah menjalani perawatan saluran akar sering kali membutuhkan perlindungan tambahan agar tetap kuat digunakan untuk mengunyah. Pada kondisi seperti ini, crown gigi atau mahkota gigi dapat menjadi solusi untuk mempertahankan gigi asli tanpa harus dicabut.

Berbeda dengan tambalan yang hanya memperbaiki sebagian permukaan gigi, pemasangan crown gigi dilakukan untuk melindungi seluruh bagian gigi yang telah kehilangan banyak struktur. Dengan begitu, bentuk, fungsi, kekuatan, hingga penampilan gigi dapat kembali optimal.

Saat ini tersedia berbagai jenis crown gigi yang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien, mulai dari crown berbahan porselen hingga crown zirconia yang dikenal kuat sekaligus estetik.

Lalu, kapan seseorang membutuhkan crown gigi? Apa saja jenisnya? Bagaimana proses pemasangannya? Simak penjelasan berikut.

 

Apa Itu Crown Gigi?

Crown gigi atau mahkota gigi adalah selubung buatan yang dipasang untuk menutupi seluruh permukaan gigi yang rusak. Crown dibuat secara khusus di laboratorium kedokteran gigi agar bentuk, ukuran, dan warnanya menyerupai gigi asli, kemudian direkatkan secara permanen pada gigi yang telah dipersiapkan oleh dokter gigi.

Tujuan pemasangan crown gigi bukan hanya memperbaiki penampilan, tetapi juga membantu mengembalikan fungsi gigi sehingga tetap nyaman digunakan untuk mengunyah maupun berbicara.

Secara umum, manfaat crown gigi meliputi:

Karena menutupi seluruh bagian mahkota gigi yang terlihat di atas gusi, restorasi ini sering disebut sebagai full-coverage restoration.

 

Kondisi yang Dapat Membutuhkan Crown Gigi

Tidak semua gigi yang rusak memerlukan crown. Pada beberapa kondisi, tambalan biasa masih cukup untuk memperbaiki kerusakan. Namun jika struktur gigi yang hilang sudah cukup banyak, dokter gigi biasanya akan merekomendasikan pemasangan crown gigi agar gigi tetap kuat dalam jangka panjang.

Beberapa kondisi yang paling sering memerlukan mahkota gigi antara lain:

Apabila lubang gigi sudah menyebabkan hilangnya sebagian besar struktur mahkota alami gigi, tambalan biasa tidak lagi mampu memberikan kekuatan yang memadai.

 

Pada kondisi seperti ini, dental crown dapat membantu melindungi sisa jaringan gigi dari risiko patah saat digunakan mengunyah.

Gigi yang telah menjalani PSA tidak selalu membutuhkan dental crown. Namun, gigi belakang atau gigi posterior (seperti premolar dan molar) yang telah kehilangan banyak struktur gigi umumnya lebih berisiko mengalami fraktur sehingga sering direkomendasikan untuk dipasang dental crown setelah perawatan saluran akar selesai.

 

Keputusan ini bergantung pada jumlah jaringan gigi yang masih tersisa, lokasi gigi, dan beban kunyah yang diterima gigi tersebut.

Retakan atau patahan gigi yang cukup luas dapat melemahkan struktur gigi. Selama akar gigi masih dapat dipertahankan dan tidak terdapat kontraindikasi lain, dental crown dapat membantu mengembalikan kekuatan gigi.

Tambalan lama yang bocor, aus, atau berulang kali mengalami kegagalan, maka perlu diganti dengan restorasi yang lebih menyeluruh, seperti dental crown.

Pada kondisi tertentu, dental crown juga dapat digunakan untuk memperbaiki bentuk atau warna gigi yang tidak dapat diperbaiki secara optimal dengan prosedur lain, misalnya pada perubahan warna yang sangat berat atau kelainan bentuk gigi tertentu.

 

Jenis Crown Gigi Berdasarkan Bahannya

Tidak ada satu jenis dental crown yang paling baik untuk semua pasien. Pemilihannya disesuaikan dengan lokasi gigi, kebutuhan estetika, kekuatan kunyah, kebiasaan pasien, serta pertimbangan dari dokter gigi.

Crown logam dibuat dari paduan logam seperti emas atau logam dasar (base metal alloy).

 

Kelebihan Metal Crown:

 

Kekurangan Metal Crown:

PFM terdiri dari kerangka logam yang dilapisi porselen pada bagian luar sehingga memberikan keseimbangan antara kekuatan dan estetika.

 

Kelebihan PFM:

 

Kekurangan PFM:

Crown all-ceramic dibuat seluruhnya dari bahan keramik tanpa logam.

 

Kelebihan All-Ceramic:

 

Kekurangan All-Ceramic:

Crown zirconia merupakan material keramik berkekuatan tinggi yang banyak digunakan pada restorasi modern.

 

Kelebihan Zirconia:

 

Kekurangan Zirconia:

Crown berbahan resin komposit umumnya digunakan sebagai restorasi sementara (temporary crown) atau pada kondisi klinis tertentu sesuai dengan pertimbangan dokter gigi.

 

Kelebihan Resin Komposit:

 

Kekurangan Resin Komposit:

 

Proses Pemasangan Crown Gigi

Banyak pasien membayangkan bahwa pemasangan crown gigi merupakan prosedur yang rumit. Padahal, tindakan ini dilakukan secara bertahap agar mahkota gigi dapat terpasang dengan presisi dan nyaman digunakan.

 

Secara umum, berikut adalah tahapan perawatannya:

Dokter gigi akan mengevaluasi kondisi gigi melalui pemeriksaan klinis dan foto rontgen (bila diperlukan) untuk memastikan bahwa akar gigi sehat dan layak dipertahankan.

Permukaan gigi akan diasah atau dibentuk dengan mengurangi sebagian jaringannya agar tersedia ruang yang cukup untuk pemasangan dental crown. Ketebalan pengurangan ini sangat bergantung pada jenis material crown yang dipilih.

Setelah preparasi selesai, dokter gigi akan merekam bentuk gigi pasien menggunakan bahan cetak khusus. Data cetakan ini kemudian dikirim ke laboratorium gigi sebagai dasar pembuatan dental crown permanen.

Selama proses pembuatan crown permanen di laboratorium, dokter gigi akan memasang crown sementara untuk melindungi gigi yang sudah dipreparasi agar tidak sensitif atau patah.

Setelah crown permanen selesai dibuat, dilakukan uji coba (fitting) terlebih dahulu. Dokter gigi akan memeriksa beberapa poin penting berikut:

 

Jika seluruh aspek di atas sudah sesuai dan nyaman bagi pasien, dental crown permanen akan direkatkan secara kuat menggunakan semen kedokteran gigi khusus.

 

Apakah Pemasangan Crown Gigi Sakit?

Sebagian besar pasien hanya merasakan sedikit rasa tidak nyaman selama preparasi gigi.

 

Bila diperlukan, dokter akan memberikan obat bius lokal sehingga prosedur berlangsung lebih nyaman.

 

Setelah pemasangan, beberapa pasien dapat mengalami sensitivitas ringan terhadap dingin atau tekanan selama beberapa hari. Kondisi ini umumnya bersifat sementara dan akan berkurang seiring adaptasi gigi.

 

Berapa Lama Crown Gigi Dapat Bertahan?

Tidak ada angka pasti karena setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda.

 

Ketahanan dental crown dipengaruhi oleh:

 

Dengan perawatan yang baik, banyak dental crown dapat bertahan selama 10-15 tahun.

 

Faktor yang Memengaruhi Biaya Crown Gigi

Biaya pemasangan crown berbeda pada setiap pasien karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:

 

Oleh karena itu, estimasi biaya baru dapat ditentukan setelah pemeriksaan oleh dokter gigi. Di ConfiDental Care, biaya dental crown berkisar dari Rp. 2.500.000 sampai Rp. 3.500.000.

 

Cara Merawat Crown Gigi

Meskipun dental crown tidak dapat mengalami karies (gigi berlubang), gigi asli di bawah atau di sekitar tepi crown tetap rentan terhadap lubang maupun penyakit gusi apabila kebersihan mulut tidak dijaga dengan baik.

 

Beberapa langkah penting untuk merawat crown gigi meliputi:

  1. Menyikat gigi secara teratur: Sikat gigi minimal dua kali sehari menggunakan pasta gigi yang mengandung fluoride.
  2. Membersihkan sela-sela gigi: Gunakan benang gigi (dental floss) atau sikat interdental (interdental brush) secara rutin untuk membersihkan sela gigi yang tidak terjangkau sikat biasa.
  3. Hindari menggigit benda keras: Kurangi kebiasaan mengunyah atau menggigit benda keras (seperti es batu, cangkang kepiting, atau membuka kemasan dengan gigi) untuk mencegah risiko crown retak atau pecah.
  4. Menggunakan night guard (Jika Perlu): Bagi yang memiliki kebiasaan menggertakkan gigi malam hari (bruxism), gunakan pelindung gigi (night guard) saat tidur sesuai dengan anjuran dokter gigi.
  5. Kontrol rutin ke dokter gigi: Lakukan pemeriksaan berkala setiap enam bulan sekali atau sesuai dengan jadwal yang ditentukan oleh dokter gigi untuk memantau kondisi crown dan jaringan di sekitarnya.

 

Kapan Harus Kontrol Kembali?

Segera periksakan crown apabila mengalami:

 

Pemeriksaan lebih awal membantu mencegah infeksi yang lebih luas pada gigi penyangga.

 

Kesimpulan

Crown gigi atau mahkota gigi merupakan restorasi yang berfungsi melindungi sekaligus mengembalikan bentuk, kekuatan, dan fungsi gigi yang mengalami kerusakan. Perawatan ini sering direkomendasikan setelah perawatan saluran akar, pada gigi yang patah, atau ketika struktur gigi yang tersisa sudah tidak cukup kuat untuk ditambal biasa.

Saat ini tersedia berbagai jenis crown gigi, seperti crown zirconia, PFM, full metal, hingga E-max, yang masing-masing memiliki keunggulan tersendiri sesuai kebutuhan klinis dan estetika pasien. Dengan pemasangan crown gigi yang tepat serta perawatan sehari-hari yang baik, mahkota gigi dapat bertahan selama bertahun-tahun dan membantu mempertahankan gigi asli.

Jika Confi People mengalami gigi patah, pernah menjalani PSA, atau dokter menyarankan penggunaan mahkota gigi, jangan ragu untuk berkonsultasi. Dokter gigi ConfiDental akan membantu menentukan jenis crown gigi yang paling sesuai dengan kondisi dan kebutuhanmu sehingga fungsi kunyah maupun estetika senyum dapat kembali optimal.

Baca Juga:

 

Referensi:

  1. Dental crown. (n.d.). Dalam ScienceDirect Topics. Elsevier. Diambil 08 Juli 2026, dari https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/dental-crown 
  2. Hawthan, M., Chrcanovic, B. R., & Larsson, C. (2022). Retrospective clinical study of tooth-supported single crowns: A multifactor analysis. European journal of oral sciences, 130(4), e12871. https://doi.org/10.1111/eos.12871 
  3. Makhija, S. K., Lawson, N. C., Gilbert, G. H., Litaker, M. S., McClelland, J. A., Louis, D. R., Gordan, V. V., Pihlstrom, D. J., Meyerowitz, C., Mungia, R., McCracken, M. S., & National Dental PBRN Collaborative Group (2016). Dentist material selection for single-unit crowns: Findings from the National Dental Practice-Based Research Network. Journal of dentistry, 55, 40–47. https://doi.org/10.1016/j.jdent.2016.09.010

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *